Tinggalkan komentar

“ANALISA KELAYAKAN INVESTASI RUMPUT LAUT DI PULAU KARAMASAN KABUPATEN POLMAS PADA PT. BANTIMURUNG INDAH MAROS DITINJAU DARI ASPEK TEKNIS PRODUKSI DAN ASPEK KEUANGAN”.

  • Metode Budidaya

Metode budidaya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut. Selama ini dikenal ada 3 (tigas) metode budidaya rumput laut berdasarkan posisi tanaman terhadap dasar perairan yang telah dicoba dikembangkan. Metode-metode tersebut adalah metode dasar, metode lepas dasar dan metode apung.

Penerapan ketiga macam metode ini harus disesuaikan dengan kondisi perairan di mana lokasi budidaya rumput laut dilaksanakan. Teknologi dari ketiga macam metode penanaman rumput laut tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Metode Dasar

Penanaman dengan metode ini dilakukan dengan mengikat bibit tanam pada batu karang kemudian disebar pada dasar perairan. Keuntungan dari metode ini  tidak dibutuhkan biaya yang besar penanaman mudah dilakukan dan tidak diperlukan pemeliharaan yang rumit. Kerugian dari metode ini antara lain adalah hasilnya kurang baik dan tanaman akan mudah terserang bulu babi serta banyak yang hilang terbawa arus.

  1. Metode lepas dasar

Metode ini dapat dilakukan pada dasar perairan yang terdiri dari pasir dan lumpur berpasir, sehingga mudah untuk menancapkan patok/pancang. Sulit dilakukan pada dasar perairan yang terdiri dari batu karang. Bibit diikatkan dengan tali rafia., kemudian diikatkan pada tali nylon monofitlament yang direntangkan pada patok 2,5 meter. Jarak antara dasar perairan dengan bibit akan diikatkan berkisar antara 20 sampai 30 cm. Penentuan tinggi kedudukan air pada waktu surut terendah.

Sebagai contoh, untuk budidaya rumput laut skala kecil dengan sistem pancang berukuran 100 X 5 m2 dibutuhkan material sebagai berikut :

  • Tali Nylon monofilament, diameter 4 mm = 35 Kg
  • Tali Nylon monofilament, diameter 8 mm = 75 Kg
  • Tali Rapia = 25 Kg
  • Tongkak diameter 2,5 cm panjang 1 m = 270 bt

Satu unit pancangan terdiri dari 500 tali dengan jarak antara tali yang satu dengan yang lainnya adalah 20 cm. Pada setiap tali dapat dikatakan 25 rumpun.

Jumlah rumpun yang dapat diikatkan pada satu unit pancang. Sebanyak 12.500 rumpun dengan berat rata-rata setiap rumput laut yang dibudidayakan dengan metode pancang rata-rata adalah 2,65% per hari.

  1. Metode rakit apung

Metode ini cocok untuk perairan dengan dasar yang terdiri dari karang dan  pergerakannya didominasi oleh ombak. Penanaman dilakukan dengan menggunakan  rakit-rakit dari bambu, sedangkan ukuran tiap rakit sangat bervariasi tergantung dari ketersediaan material. Ukuran rakit dapat disesuaikan dengan kondisi perairan, tetapi pada prinsipnya ukuran rakit dibuat jangan terlalu besar sehingga mudah untuk pengamanan rumput laut yang ditanam.

Untuk menahan agar rakit tidak hanyut terbawa arus, maka dipergunakan tali penahan (rope line) dengan ukuran 9 mm, untuk menahan dasar digunakan patok sebagai jangkar.

Untuk menghemat areal dan memudahkan pemeliharaan beberapa rakit dapat dijadikan satu dan tiap rakit diberi jarak satu meter.

Bibit diikatkan pada tiap simpul tali plastik yang telah direntangkan pada rakit. Ukuran tiap rumpun berkisar antara 75 sampai 100 gram. Pertumbuhan tanaman dengan metode apung ini, umumnya lebih baik daripada metode lepas dasar, karena cukupnya pergerakan air dan intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman.

Selain menjamin pertumbuhan yang lebih baik, keuntungan lain dari metode ini ialah tanaman aman dari gangguan bulu babi dan pemeliharaan tanaman mudah dilakukan. Sedangkan kerugian dari penerapan metode ini antara lain :

  • Biaya untuk pembuatan sarana budidaya relatif lebih mahal.
  • Karena tanaman terlalu dekat dengan permukaan air, pada waktu laut tidak berombak, tanaman sering muncul ke permukaan air. Bila hal ini berlangsung dalam waktu lama dapat menyebabkan cabang-cabang tanama menjadi pucat karena kehilangan pigmen dan akhirnya akan mati.

Untuk memudahkan pemerliharaan, umumnya satu unit terdiri dari rakit berukuran 5 X 2,5 M2. Satu rakit terdiri dari 25 tali dan jarak antara masing-masing tali 20 cm. Pada setiap tali dapat diikatkan sepuluh rumpun tanaman dan jarak antara rumpun yang satu dengan rumpun yang lainnya adalah 20 cm, sehingga dalam satu rakit terdiri dari 250 rumpun dengan berat rata-rata  per rumpun 100 gram atau dibutuhkan 25 kg bibit.

 

  • Panen

Panen umumnya dilakukan bila tanaman mencapai berat kurang lebih 600 kg per ikat atau 1,5 – 2 bulan sekali setelah penanaman pertama atau setelah panen berikutnya. Panen dapat dilakukan dengan dua cara :

  1. Panen dengan memotong sebagian tanaman. Keutungan cara ini antara lain  penghematan tali rafia pengikat bibit.. Namun cara ini  memerlukan waktu kerja di laut yang lebih lama, sisa tanaman di laut terdiri dari thallus yang tua sehingga pertumbuhannya lambat dan kandungan karagenan hasil panen lebih rendah, pemotongan tanaman harus dilakukan dengan alat pemotong yang tajam agar pada bekas potong sisa tanaman dapat tumbuh percabangan baru dengan baik.
  2. Panen dengan cara mengangkat seluruh tanaman, cara ini memerlukan waktu kerja di laut yang lebih singkat. Pelepasan tanaman dari tali ris dilakukan di darat dengan cara memotong tali rafiah. Selain itu panen dengan cara ini mempunyai keuntungan tersendiri yaitu menanam kembali bibit rumput laut dengan memilih bagian tanaman yang masih muda dengan laju pertumbuhan yang tinggi dan kandungan karagenan juga tinggi.

 

  • Pasca Panen

Pasca  panen rumput laut meliputi beberapa kegiatan, yaitu ;

    1. Sistem penjemuran
    2. pengarungan
    3. penyimpangan (pergudangan)

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

 

  • Tujuan Investasi

Seorang pengusaha (investor) bersedia melepas atau mengorbankan dananya apabila dana yang mereka keluarkan saat ini dapat memberikan suatu pengembalian yang mempunyai nilai yang lebih besar pada jamgka waktu tertentu. Jadi pada perinsifnya suatu investasi bias dilaksanakan apabila dalam perhitungan investasi tersebut bisa memberikan apa yang di harapkan pada masa yang akan datang. Hal tersebut merupakan gambaran tentang tujuan dan maksud dilaksanakannya suatu proyek investasi.

Seperti halnya tujuan umum suatu investasi, maka PT. Bantimurung Indah mau mlaksanakan suatu proyek investasi karena adanya suatu tujuan yang hendak dicapai. Adapun tujuan dari proyek investasi budi daya rumput laut di pulau Karamsan Kabupaten Polmas  sebagai berikut:

  1. Sebagai suatu investasi hulu (expansi Kebelakang), artinya PT. Bantimurung Indah Maros melaksanakan invesatasi ini sebagai suatu pengembangan usaha untuk memperlancar pasokan bahan baku bagi pabrik di perusahaannya.
  2. Untuk memberikan kesempatan kerja baru bagi masyarakat disekitar lokasi proyek dan memberikan tambahan penghasilan bagi mereka.
  3. Memperkenalkan suatu metode baru kepada masyarakat petani rumput laut, khusus masyarakat yang ada disekitar pulau Karamasan yang selama ini menghadapi kendala dalam pengembangan usaha budidaya rumput laut karena gangguan hama berupa ikan.
  4. Membuka jaringan baru bagi pasokan bahan baku bagi perusahaan dengan biaya yang relatif murah.
  5. Membantu pemerintah setempat dalam memamfaatkan sumber daya alam yang ramah lingkungan.

 

  • Anggaran Proyek

Dalam menjalankan sebuah proyek (usaha) dibutuhkan sejumlah dana (anggaran) untuk membiayai invesatasi tersebut. Namun pada dasarnya setiap proyek hanya mempunyai dua kelompok anggaran, yaitu anggaran untuk biaya investasi aktiva tetap dan anggaran untuk modal kerja. Pada proyek budidaya rumput laut ini telah dibuat rencana anggaran oleh PT. Bantimurung Indah dengan kapasitas produksi 3.000 kg/siklus (1.5 bulan) atau sekali panen maka kapasitas produksi pertahun sebesar 3.000 kg X 8 = 24.000 kg atau sekitar 24 ton pertahun rumput laut kering dengan luas areal 1.5 ha (1.500 m2). Untuk mencapai produksi tersebut dibutuhkan investasi sebesar Rp. 74.624.750,00. Dimana anggaran tersebut terdiri dari anggaran untuk investasi aktiva tetap dan modal kerja. Adapun rincian anggaran tersebut, sebagai berikut:

 

 

 

  • Anggaran Aktiva Tetap

Anggaran investasi untuk aktiva tetap pada proyek ini ditaksir senilai Rp. 30.624.750,00, ini digunakan untuk membiayai masing-masing:

  1. Jaring (dari) sebanyak 10.000 m dengan harga @ Rp. 2.350,00 senilai Rp.23.500.000,-.
  2. Biaya pembuatan kantong dari jaring sebanyak 20.000 buah dengan biaya @ Rp. 200,00 senilai Rp. 4.000.000,00.
  3. Tali PE” 5 sebanyak 100 kg dengan harga @ Rp. 11.000,00 senilai Rp.1.100.000,00.
  4. Tali PE” 2 sebanyak 34 kg dengan harga @ Rp. 9.000,00 senilai Rp.306.000,00.
  5. Tasi nomor 100 sebanyak 334 roll dengan harga @ Rp. 2.300,00 senilai Rp.768.200,00.
  6. Patok sebanyak 267 batang dengan harga @ Rp. 1.500,00 senilai Rp.400.500,00.
  7. Pelampung sebanyak 3.667 buah dengan harga @ Rp. 150,00 senilai Rp.550.050,00.

Investasi tersebut diperkirakan berumur tiga tahun dengan tampa nilai sisa (residu). Dan diperkirakan menyusup secara tetap setiap tahun.

 

 

 

  • Anggaran Modal Kerja

Untuk membiayai operasional proyek setiap siklus dibutuhkan modal kerja senilai Rp. 5.500.000,00, berarti dalam setiap tahunnya dubutuhkan modal kerja senilai Rp. 44.000.000,00, yang dibiayai dengan modal pinjaman dengan biaya modal sebesar 17% pertahun. Pembiayaan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut;

  1. Biaya bibit sebanyak 4.000 kg basah dengan harga @ Rp. 500,00 senilai Rp.2.000.000,00.
  2. Biaya pupuk senilai Rp. 2.000.000,00
  3. Biaya tenaga kerja (FEE bagi petani/tenaga kerja) Rp. 1.500.000,00.

 

  • Laporan Proyeksi Laba / Rugi dan Proyeksi Arus Kas
    • Laporan Proyeksi Laba / Rugi

Berdasarkan rencana investasi tersebut maka diperoleh data dari perusahaan mengenai laporan proyeksi Laba dan Rugi dengan kapasitas produksi 3 ton atau 24 ton pertahun, dapat dilihat pada tabel 5 dan tabel 6.

Diperkirakan tingkat penerimaan tiap tahun tetap yaitu sebesar Rp.96.000.000,00, ini berarti penerimaan persiklus sebesar Rp.12.000.000,00. Dan dibtuhkan modal kerja setiap tahun sebesar Rp44.000.000,00 selain baiay penyusutan aktiva tetap. Biaya penyusutan diperkirakan setiap tahun sebesar Rp.10.208.250,00.

Alternative pertama untuk investasi yaitu seluruh biaya didanai oleh modal sendiri dan alternative kedua sebagian dibiayai dengan modal pinjaman sebesar Rp.50.000.000,00 dengan tingkat suku bunga 17% pertahun. Kedua alternative tersebut tidak dikenakan beban pajak karena jenis usaha ini termasuk dalam kelompok usaha yang bebas pajak sebagaimana dalam undang undang pajak nomor 11 tahun 1994 angka 7 pasal 4A ayat C.

 

  • Laporan Proyeksi Arus Kas

Seperti halnya dengan laporan proyeksi laba rugi, maka arus kas juga diperkirakan akan sama setiap tahunnya. Arus kas bersih diperoleh setelah laba usaha ditambah dengan penyusutan (depresiasi). Jadi yang membedakan dengan proyeksi laba rugi adalah pada penyusutan dimana pada laporan laba rugi penyusutan jadi beban sementara pada arus kas penyusutan tidak dianggap beban. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada tabel 7.

 

  • Analisa Kelayakan Investasi
    • Average Rate of Return

Berdasarkan data di atas maka diketahui laba usaha setiap tahun dari investasi yang dibiayai sebagian oleh pinjaman tersebut sebesar Rp. 33.291.750,00, initial investment Rp. 74.624.750,00 yang terdiri dari investasi aktiva tetap Rp.30.624.750,00 dan modal kerja Rp. 44.000.000,00.  Di mana seluruh investasi di biayai oleh perusahaan (modal sendiri) jadi pada pilihan pertama ini tidak ada beban  bunga juga beban pajak karena budidaya perikanan merupakan investasi bebas pajak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 6. Proyeksi Laba Rugi untuk tiga tahun pertama

PROYEKSI LABA / RUGI

PER, 200A, 200B, 200C

No. Uraian Alternatif I Alternatif II
200A 200B 200C 200A 200B 200C
1 Rencana Penerimaan 96,000,000 96,000,000 96,000,000 96,000,000 96,000,000 96,000,000
2 Rencana Pengeluaran;
1. Biaya Bibit 16,000,000 16,000,000 16,000,000 16,000,000 16,000,000 16,000,000
2. Biaya Tenaga Kerja (FEE) 12,000,000 12,000,000 12,000,000 12,000,000 12,000,000 12,000,000
3. Biaya Pupuk dan Lainnya 16,000,000 16,000,000 16,000,000 16,000,000 16,000,000 16,000,000
4. Biaya Penyusutan 10,208,250 10,208,250 10,208,250 10,208,250 10,208,250 10,208,250
Total Pengeluaran 54,208,250 54,208,250 54,208,250 54,208,250 54,208,250 54,208,250
3 Selisih Penerimaan dan Pengeluaran Sebelum Bunga dan Pajak 41,791,750 41,791,750 41,791,750 41,791,750 41,791,750 41,791,750
4 Beban Bunga 0 0 0 8,500,000 8,500,000 8,500,000
5 Selisih Penerimaan dan Pengeluaran Sebelum Pajak 41,791,750 41,791,750 41,791,750 33,291,750 33,291,750 33,291,750
6 Beban Pajak 0 0 0 0 0 0
7 Selisih Penerimaan dan Pengeluaran Setelah Bungan dan Pajak 41,791,750 41,791,750 41,791,750 33,291,750 33,291,750 33,291,750

 

Karena umur investasi diperkirakan tiga tahun maka besarnya investasi yang tertanam setiap tahunnya adalah:

= (Rp. 30.624.750,00 + Rp. 20.416.500,00 + Rp. 10.208.250,00 + 0)/4

= Rp. 15.312.275,00 + Rp. 44.000.000,00

= Rp. 59.312.375,00

Maka dapat diperoleh ARR terhadap investasi total adalah:

Rp. 33.291.750,00

ARR = ———————- X 100% = 56%

Rp. 74.624.750,00

 

 

 

Artinya dari setiap Rp. 1,00 dana yang diinvestasikan mampu memberikan hasil setiap tahun (tingkat pengembalian) rata-rata Rp. 0,56.

Tabel 7. Proyeksi Cash Flow Tiga Tahun

  1. BANTIMURUNG INDAH

Proyeksi Cash Flow

Per, 200A, 200B, 200C

No. Uraian Tahun
200A 200B 200C
1 Rencana Penerimaan 96,000,000 96,000,000 96,000,000
2 Rencana Pengeluaran;
1. Biaya Bibit 16,000,000 16,000,000 16,000,000
2. Biaya Tenaga Kerja (FEE) 12,000,000 12,000,000 12,000,000
3. Biaya Pupuk dan Lainnya 16,000,000 16,000,000 16,000,000
4. Biaya Penyusutan 0 0 0
Total Pengeluaran 44,000,000 44,000,000 44,000,000
3 Selisih Penerimaan dan Pengeluaran Sebelum Bunga dan Pajak 52,000,000 52,000,000 52,000,000
4 4. Biaya Penyusutan 1,276,031 1,276,031 1,276,031
53,276,031 53,276,031 53,276,031
Saldo Awal Kas 0 53,276,031 106,552,063
Saldo Akhir Kas 53,276,031 106,552,063 159,828,094

Sumber : PT. BAntimurung Indah

Rp. 33.291.750,00

ARR = ———————- X 100% = 56%

Rp. 59.312.375,00

Dan tingkat pemulihan investasi berdasarkan investasi rata-rata yang tertanam setiap tahun adalah, sebagai berikut;

 

Artinya dari setiap Rp. 1,00 dana yang kita korbankan akan mampu memberikan tingkat pemulihan sebesar 70,67%. Berarti umur dari investasi adalah tiga tahun maka berdasarkan metode penilaian ini dapat dinyatakan usulan investasi ini layak untuk dilaksanakan baik dengan berdasar investasi total (initial investment) maupun dengan investasi rata-rata.

 

  • Net Present Value

Telah diketahui initial investment Rp. 74.624.750,00, dan cash flow tanpa bunga dan pajak sebesar:

= Rp. 33.291.750,00 + Rp. 10.208.250,00

= Rp. 43.500.000,00.

Maka akan kita peroleh Net Present Value sebagai berikut. Untuk mencari NPV ada beberapa cara yang dapat kita gunakan, yaitu:

Cara pertama;

43.500.000     43.500.000     43.500.000     44.000.000

NPV = -74.624.750 + ————- + ————— + ————– + ————–

(1+0.17)         (1+0.17)2           (1+0.17)3            (1+0.17)3

 

43.500.000     43.500.000     43.500.000     44.000.000

= -74.624.750 + ————- + ————— + ————– + ————–

1.17              1.3689               1.601613            1.601613

=-74.624.750+37.179.487,20+31.777.339,50+27.160119,20+27.472.304,50

= -74.624.750 + 123.589.250

=  48.964.500,00

 

                                       1-(1+0.17)-3                       44.000.000

NPV = -74.624.750 +   ——————–   +   —————

0.17/43.500.000            (1+0.17)3

Cara kedua;

 

 

 

 

 

 

= -74.624.750 + 96.116.945,96 + 27.472.304,48

= -74.624.750 + 123.589.250

=  48.964.500,00

Baik dengan cara pertama maupun dengan cara kedua sama-sama memberikan hasil yang positif, ini berarti bahwa proyek investasi tersebut layak untuk dilaksanakan.

Cara ketiga;

Tabel 8. PV of Cash Flow dengan discount Faktor 17%

Tahun Cash Flow PIVF 17% PV of Cash Flow
0 -74,624,750 1.00000 -74,624,750
1 43,500,000 0.85470 37,179,450
2 43,500,000 0.73051 31,777,185
3 43,500,000 0.62437 27,160,095
3 44,000,000 0.62437 27,472,280
NPV =   48,964,260

Jadi baik dengan menggunakan cara pertama dan kedua maupun yang dengan cara yang ketiga semu memberikan hasil yang sama dengan nilai yang positif, ini berarti bahwa berdasarkan metode penilaian NPV proyek ini layak untuk dilaksanakan.

 

  • Internal Rate of Return

Berdasarkan informasi di atas maka proyek ini mempunyai Present Value (PV) yang harus dikeluarkan pada saat memulai proyek ini sebesar Rp.74.624.750,00, dengan perhitungan akan memberikan pemasukan PV setiap tahun sebesar Rp.43.500.000,00. Dengan tambahan modal kerja setiap tahun sebesar Rp.44.000.000,00. Dari proyek ini diharapkan memberikan keuntungan minimal setiap tahunnya dari modal yang dikeluarkan sebesar 17%. Maka Intrernal Rate of Retutrn (IRR) dapat dihitung sebagai berikut;

                        43.500.000           43.500.000     43.500.000     44.000.000

74.624.750 =  ————— + ————— + ————– + —————

(1+r)1                (1+r)2              (1+r)3                      (1+r)3

 

74.624.750 =  37.179.450 + 31.777.185 + 27.160.095 + 27.472.280

 

74.624.750 <  123.589.010

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan perhitungan diatas maka akan diperoleh PV of Investment yang lebih kecil dari pada PV of cash flow. Jadi bila cara ini yang dijadikan patokan dalam mengambil keputusan maka proyek ini sebaiknya dilaksanakan karena PV dari cash inflownya lebih besar dari PV dari cash outflownya (investasi). Namun cara ini kuran begitu tetapi tepat bila dipakai dalam proyek yang menggunakan modal pinjaman.

Namun dalam metode analisa ini yang di hitung adalh nilai tingkat suku bunga ( r ). Untuk menghitung r ini hanya dapat dilakukan dengan prinsip trial and error, yakni dengan mencari dua tingkat bunga yang masing-masing dapat menghasilkan PV of Cash Flow sedikit di atas dan di bawah nilai investasi. Dimana proyek ini membutuhkan investasi inisial (initial Investment) sebesar Rp.74.624.750,00 sementara cash flow setiap tahun sebesar Rp.43.500.000,00. Usia ekonomis (n) = 3 tahun dan i = 17% maka IRR adalah sebagai berikut;

Langkah pertama; dicari nilai payback periodenya:

X  = I0/A

=  (Rp.74.624.750/Rp.43.500.000) x 1 tahun

=  1.71551149 tahun

Langkah keuda; menggunakan interpolasi (trial and error)

Tabel 9; Tabel perhitungan interpolasi

Tahun CF DF (34%) PV DF (35%) PV
1 43,500,000 0.746 32,451,000 0.735 31,972,500
2 43,500,000 0.557 24,229,500 0.541 23,533,500
3 43,500,000 0.416 18,096,000 0.398 17,313,000
74,776,500   72,819,000

 

 

                        74.776.500 – 74.624.750

r =  34% + ———————————  (35% – 34%)

74.776.500 – 72.819.000

 

151.750

r =  34% + —————–  (1%)

1.957.500

r = 34% + 0.0775223%

r = 34.0775%

 

 

 

 

 

 

 

 

Langkah ketiga; menentukan discount factornya:

Kita ambil daftar A-2 pada n = 3 yang mendekati (lebih besar dan lebih kecil) dari pada X di atas itu, sebagaimana yang tampak pada tabel berikut:

Tabel 10; discount factor dari i = 34% dan 35%

N 34% 35%
1

2

……..

……..

……….

………

3 1.719 1.696

Langkah keempat;

Nilai-nilai yang diperoleh kita masukan kepersamaan berikut;

A=  1.719 – 1.716  =  0.003

A=  1.719 – 1.696  =  0.023

 

 

 

Langkah kelima;

Menghitung IRR:

                             0.003

IRR =  34% + ———–  (35% – 34%)

0.023

 

IRR = 34% + 0.13043478%

IRR = 34.1304348%

 

 

 

 

 

 

Artinya, apabila kita menghitung NPV proyek tersebut dengan menggunakan discount factor 34.13% maka yang akan kita peroleh adalah NPV = 0. Atau dengan kata lain apabila kita menghitung PV of cash inflow proyek tersebut dengan menggunakan discount rate sebesar 34.13%, hasilnya akan persis sama besarnya dengan investasi Rp.74.624.750,00. Karena itu tawaran pinjaman bagi pembiayaan proyek tersebut dengan menggunakan tingkat bunga lebih besar dari 34.13% harus ditolak. Dengan kata lain apabila tingkat bunga umum atau required rate of return adalah lebih kecil dari 34.13% baru proyek tersebut dapat diterima.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

PENUTUP

 

  • Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab-bab di depan mengenai analisa kelayakan investasi budidaya rumput laut di pulau Karamasan Kabupaten Polmas oleh PT. Bantimurung Indah Maros dengan menggunakan analisa aspek keuangan, maka penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Ditinjau dari aspek teknis produksi maka usulan proyek investasi tersebut layak untuk dilaksanakan berdasarkan informasi tentang kondisi dan letak lokasi rencana proyek sebagaimana yang telah diuraikan didepan.
  2. Dengan berdasar pada kendala yang dihadapi oleh masyarakat petani budidaya rumput laut disekitar lokasi proyek yang berupa gangguan hama berupa iakn, maka metode purukan (net bag) cocok untuk dilaksanakan walaupun biayanya agak lebih mahal.
  3. Ditinjau dari aspek teknik dan keuangan dengan menggunakan penilaian Average Rate of Return (ARR) proyek ini layak untuk dilaksnakan tetapi kelemahannya yaitu tidak mempergunakan Time Value of Money (NPV Point). Begitu juga dengan metode penilaian Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return.

 

 

 

  • Saran-saran

Dengan melihat permaslahan sampai ke pembahasan pada tulisan ini, maka penulis memberi saran sebagai berikut:

  1. Bagi PT. Bantimurung Indah Maros agar proyek tersebut diterima dan dilaksanakan meskipun dibiayai dengan modal pinjaman sepanjang bunga yang di tawarkan tidak lebih besar dari 13%.
  2. Bagi masyarakat petani yang menghadapi kendala berupa gangguan ikan pada budidaya rumput lautnya sebaiknya menggunakanmetode purukan ini. Karena metode ini mempunyai tingkat resiko yang lebih kecil dibanding dengan metode lain, meskipun biayanya agak lebih tinggi.
  3. Bagi pemerintah agar memperkenalkan kepada masyarakat metode ini guna meningkatkan dan menjamin kontinyuitas produksi rumput laut masyaraka petani.
  4. Bagi PT. Bantimurung Indah sebaiknya menerima usulan tersebut kalau perlu menambah luas arealnya karena lokasi tersebut lebih ekonomis jika dibanding dengan lokasi budidaya yang dimiliki selama ini.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bambang Riyanto, 1989. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yayaan Badan Penerbit Gadjah Mada., Yogyakarta.

Eugene M. Lerner, 1971. Managerial Finance: A System Approach, 1st.ed., Harcourt Brace Jovanovich inc., New York.

E.V.K. Firtz Gerald, 1987.  Public Sector Investment Planning For Developing Countries, 1st ed. London : The MacMillan Press Ltd.

James C. Van Horne. 1981. Financial Management and Policy, 5th ed., New Delhi Prentice – Hall of India.

John J. Clark, ewt.al. 1979. Capital Budgeting Planning and Control of Capital Expenditure, 14ed, Englewood Cliffs Nj, Prentice – Hall, Inc.

Kartadinata, Abbas. Drs. 1989.  Pe,belanjaan Pengantar Manajemen Keuangan, cetakan kedua; PT. Bina Aksara, Jakarta.

Napa J. Awat.  1999. Manajemen Keuangan Pendekatan Matematis., PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta,.

Salim Basalamah; Murdifing Haming; dan Syafri Syam, 1994. Penilaian Rencana Penanaman Modal, Gadja Mada University Press, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: